Lirik Peterpan Ku Katakan Dengan
Indah
Ku katakan dengan indah
Dengan terluka hatiku hampa
Sepertinya luka menghampirinya
Kau beri rasa yang berbeda
Mungkin ku salah mengartikannya
Yang kurasa cinta
* tetapi hatiku selalu menginginkanmu
terlalu
menginginkanmu
selalu
menginginkanmu
Reff: kau
hancurkan hatiku, hancurkan lagi
kau hancurkan hatiku tuk melihatmu
kau terangi jiwaku. kau redupkan lagi
kau hancurkan hatiku tuk melihatmu
Repeat *
** membuatku terjatuh dan terjatuh lagi
membuatku
merasakan yang tak terjadi
semua yang terbaik
dan yang terlewati
semua yang
terhenti tanpa kuakhiri
kau buatku
terjatuh dan terjatuh lagi
kau buatku
merasakan yang tak terjadi
semua yang terbaik
dan yang terlewati
semua yang
terhenti tanpa kuakhiri
Repeat *
Reff2: kau hancurkan
hatiku, tak tertahan lagi
kau hancurkan hatiku tuk melihatmu
kau terangi jiwaku, kau redupkan lagi
kau hancurkan hatiku tuk melihatmu
Lirik diatas sangat tepat sekali tuk menggambarkan kondisiku hari ini. Hari ini dia berhasil membuatku gundah, gelisah, dan merana serta bingung. Dia membuatku melakukan tindakan bodoh yang sampai detik ini tak pernah kusesali mengapa ku melakukannya.
Cerita berawal ketika jam kuliah kedua segera dimulai, aku
yang sedari tadi menunggu dikampus ( Yang tak biasanya kulakukan). Bergegas
pergi menuju ruang kelas dia, yaitu ruang 303. Kulihat banyak orang sudah
bekumpul disana. Jadi kuputuskan untuk menunggu di depan ruang 301. Sembari
memantau kedatangannya. Akhirnya dia datang, dia menyapaku dan minta izin pergi
ke ruang 303.
Setelah itu, aku kembali ke ruangan ku (308) dan ternyata
dosen MK ku sudah menunggu di depan ruangan. Singkat cerita perkuliahan
dimulai. Aku benar-benar tak bisa menangkap ilmu dari pak dosen sedikit pun.
Otakku blank, bahkan dengan mempelajari yang ditulis di papan tulis pun aku tak
bisa. Yang ada dipikiranku hanya Ega, Ega, dan Ega. Aku benar-benar
mencemaskannya, aku begitu rindu padanya. Ingin rasanya aku keluar ruangan dan
segera masuk ke ruangannya Ega. Dan aku benar-benar melakukannya, hanya saja
aku tidak jadi masuk ke ruangannya Ega. Aku hanya mondar-mandir di sekitar
ruangannya diselingi perasaan gelisah tak karuan. Ditambah dengan kondisi
batrei yang Lowbat. Betapa semua ini begitu menyiksaku, sampai pada akhirnya
aku kembali ke ruangan. Yang bisa kulakukan hanyalah meremas-remas kursi sambil
menggigit bibirku.
Ketika kuliah selesai, aku bergegas keluar, kelas Ega
ternyata belum selesai. Kuputuskan untuk kembali ke kos dengan berjalan kaki. Sekedar
untuk mengisi batrei HP, dan mengambil cas baterei. Gila bukan, tapi aku sudah
tak peduli. Yang ada dipikiranku hanya mengajaknya makan siang. Dan berharap
bisa melepas rindu ini. Sesampainya di kampus, aku kembali ke dekat ruang 303,
dan mulai mengirim pesan pendek. Oh tuhan, betapa lamanya pesanku terbalas. Sampai
aku sendiri pun tak tahu jika ternya ta dia sudah sholat dan kembali ke
kelasnya. Jujur aku kecewa, tapi aku tak putus asa. Sembari menunggu Jarkom
tentang ruang kelas selanjutnya ( yang ternyata tak jadi ) aku kembali
mengajaknya makan siang, tetapi sehabis kuliahnya. Aku rela menunggunya, sudah
kukatakan aku rela bahkan tuk melakukan hal terbodoh sekalipun, demi
mendapatkan cintanya.
Ternyata oh ternyata, SMS ku tak kunjung dibalas. Setelah
sekian lama menunggu, ternyata kelas dia libur. Aku begitu senang, tapi kenapa
dia tak kunjung keluar. Oh tuhan apa yang harus kulakukan, batinku. Lalu kuputuskan
untuk pulang, ditengah perjalanan pulang. Sekitar rektorat, HP ku berdering. Ternyata
dari dia, katanya dia libur dan akan makan bareng temannya. Segera kubalas
untuk makan di kantin. Aku pun mengubah langkahku. What a nightmares I have
found. Dia bahkan tak ada di kantin, sms ku tak kunjung dibalas. Aku begitu
merana, kuputuskan untuk makan duluan. Sembari makan hujan pun turun. Aku yang
seharusnya sudah pulang ke kos, kini harus terjebak di kampus di iringi hujan.
Aku kembali ke ruang 303. Kulihat begitu sepi, hanya ada
segerombolan mahasiswa yang mengobrol. Aku turun ke lantai satu, dan bertemu
dengan ishma, nia, dan fitri. Aku duduk bersama mereka, menanti hujan reda.
Menanti kabar dari Ega. Setelah sekian lama, hatiku begitu hampa. Kemudian aku
menuju musholla. Berharap mendapat sedikit ketenangan. Aku duduk disana,
terdiam dan menunduk. Sambil menyenandungkan lagu “peterpan – kukatakan dengan
indah” di dalam hati.
Hujan mereda, SMS masuk. Dia masih di kampus sedang
mengobrol dengan temannya. Ku tanyakan keberadaannya, lagi-lagi kuharus
menunggu. Sampai akhirnya kuputuskan tuk pulang. Masih ada hari esok, dan
perjuanganku baru saja dimulai.
Yah setidaknya hujannya begitu indah, mengingatkanku pada
kenangan malam itu. Membuatku begitu ingin mengulanginya. Kutelusuri trotoar
jalan, perjalanan belum usai. Aku tidak akan menyerah. Ini adalah pilihanku,
Aku selalu memimpikan perasaan jatuh cinta. Dan kini perasaan itu datang, Yang
harus kulakukan ialah melengkapi perasaan itu dengan menjadikannya milikku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar